Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan satu-satunya partai koalisi yang tetap menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya akan dilaksanakan oleh pemerintah pada awal April ini. Pasalnya, rencana kenaikan BBM ditentang oleh masyarakat luas, oleh karena itu, PKS dianggap tengah membangun pencitraan.Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saleh Daulay, menilai PKS yang tetap menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) walau sebagai bagian Sekretariat gabungan (Setgab), hanya untuk menaikkan citranya di masyarakat."Saya melihat bahwa PKS sekarang sedang menaikkan citranya sebagai partai yang peduli umat," ungkap Saleh Daulay, saat dihubungi media, Sabtu (24/3).
Kejadian ini, hampir serupa saat menjelang reshuffle kabinet beberapa waktu lalu. PKS adalah salah satu partai yang vokal dalam mengkritisi kebijakan reshuffle. Walau berada dalam barisan koalisi, namun PKS terus melancarkan kritiknya hingga jatah Menteri mereka dikurangi. Tetapi, akhirnya PKS bisa menerima semua itu walau awalnya ada ancaman keluar koalisi, namun, hal tersebut nihil.Sikap tersebut, ungkap Saleh, akan sama dengan masalah BBM ini. Pada nantinya, PKS akan menerima juga kenaikan ini. Baginya sikap kritis itu baik tetapi karena PKS tidak konsisten, jadinya terkesan tidak serius.
"Sikap ini sesungguhnya positif jika konsisten sampai akhir. Tetapi pengalaman-pengalaman yang lalu menunjukkan bahwa PKS akan melunak dan akhirnya menerima. Pengalaman seperti ini jangan sampai justru menarik simpati rakyat," katanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar